Menikmati Kelezatan Khas Serui di Warung Makan Bu Yanti

Jam sepuluh pagi, perutku udah keroncongan. Aroma gurih tercium dari ujung gang di belakang Pasar Serui. Tanpa mikir panjang, aku melangkah ke arah itu, nemuin sebuah warung kecil dengan atap seng yang lapuk. “Warung Makan Bu Yanti” tertulis di papan triplek. Aku gak pernah dengar rekomendasi sebelumnya, tapi penasaran yang udah memuncak bikin aku dorong pintu kayu yang reyot.
Sepiring Ikan Kuah Kuning yang Bikin Ketagihan
Bu Yanti, pemilik warung, langsung nyambut ramah. “Baru pertama ke sini?” tanyanya sambil ngelap meja. Aku manggut. “Coba pesan ikan kuah kuning khas Papua,” sarannya. Gak butuh waktu lama, semangkuk sup kuning dengan potongan ikan kakap segar dan irisan tomat hijau disajikan. Kuahnya kental, kuning cerah dari kunyit dan jeruk nipis. Aroma kemangi dan serai nempel di tiap suapan. Rasa asam segar berpadu gurih dari santan kental. Seporsi ikan kuah kuning cuma dua puluh ribu rupiah, tapi rasanya sebanding sama restoran di kota besar.
Di warung ini, aku juga nyoba papeda dengan kuah kuning versi Bu Yanti. Papeda, bubur sagu khas Maluku dan Papua, disajikan hangat. Teksturnya mirip lem yang agak kenyal. Aku yang bukan asli Papua, awalnya ragu. Tapi abis nyampur papeda sama kuah kuning, aku gak bisa berhenti. Bu Yanti cerita kalo dia belajar masak dari neneknya yang asli Ambon. Setiap pagi, dia bangun subuh buat masak bumbu dasar segar dari pasar. “Gak pakai bubuk instan,” tegasnya. “Yang penting sabar dan cinta.”
Sore itu aku ngobrol panjang sama Bu Yanti. Warungnya udah berjalan lima tahun, berawal dari jualan lesehan di pinggir jalan. Sekarang kursi plastik dan meja kayu lapuk udah jadi tempat tetap buat para pekerja dan pelancong lokal. Menu mingguannya selalu beda: Senin ada ayam rica-rica, Selasa sup ikan tude, Rabu sayur lilin, dan Kamis tumis jantung pisang. Setiap hari ada kejutan rasa.
Sebelum pulang, aku pesan bungkusan buat besok. Bu Yanti cuma tersenyum. “Jangan lupa balik,” katanya. Di luar warung, matahari udah tenggelam di teluk Serui. Aku nyadar: tempat makan enak gak selalu soal menu populer atau interior mewah. Kadang, cita rasa paling berkesan lahir dari dapur kecil yang penuh kehangatan. Warung Makan Bu Yanti bukan cuma tempat ngisi perut, tapi juga ngisi jiwa dengan kisah dan rasa yang tulus.