Tempat Makan Tempat MakanCatatan pilihan untuk pembaca Indonesia.
food

Warung Mbak Yuli, Pelukan Hangat Makan Malam Keluarga di Serui

Cerita tentang warung makan keluarga favorit di Serui yang menyajikan masakan rumahan dan suasana kekeluargaan. Cocok untuk makan malam bersama.

4 May 2026 · 3 menit baca · oleh Risma Lestari
Warung Mbak Yuli, Pelukan Hangat Makan Malam Keluarga di Serui

Hujan deras mengguyur Serui selepas Ashar. Kami sekeluarga berlari kecil di bawah teras rumah panggung, menuju warung Mbak Yuli. Wangi kuah ikan kuningnya sudah tercium dari ujung gang. Warung ini memang sederhana, hanya meja kayu panjang dengan bangku plastik, tapi selalu ramai dengan tawa dan obrolan keluarga yang datang setiap malam. Bagi kami, warung Mbak Yuli adalah tempat makan keluarga favorit sejak anak pertama masih digendong.

Kenapa Warung Mbak Yuli Jadi Pilihan Keluarga?

Mbak Yuli selalu menyambut kami dengan ramah dan langsung ingat pesanan favorit anakku—telur dadar tipis dengan sambal terasi. Di meja belakang, suaminya sibuk mengaduk sayur daun singkong yang direbus dengan santan. Dapur terbuka memungkinkan kami melihat proses masak langsung, membuat anak-anak penasaran. Mereka sering bertanya kenapa kuah pindang tongkol Mbak Yuli tidak amis. Mbak Yuli selalu menjawab dengan senyum, rahasianya ada pada daun jeruk dan kemangi yang dipetik dari pekarangan belakang.

Tempat makan keluarga yang baik bukan cuma soal menu, tapi juga ruang untuk bercakap. Di warung ini, kami bisa duduk lama tanpa merasa dikejar waktu. Anak-anak bisa berlarian ke halaman depan yang masih tanah, sementara orang dewasa menikmati kopi tubruk hitam. Mbak Yuli pernah bercerita bahwa konsep warungnya terinspirasi dari tradisi Papua “bakubae”—makan bersama sebagai simbol kebersamaan. Konsep ini membuat pelanggan seperti kami merasa diterima seperti keluarga sendiri. Bahkan ketika kulkas kami di rumah rusak suatu malam, Mbak Yuli dengan rela menitipkan lauk pauk untuk keesokan harinya.

Dari segi cita rasa, warung ini menyajikan perpaduan khas Serui: ikan laut segar yang langsung dibeli dari TPI pagi hari, rempah pala dan cengkeh khas Papua yang memberi aroma hangat, serta sambal colo-colo yang pedasnya pas di lidah orang Indonesia timur. Menu andalannya adalah ikan kuah kuning dengan sayur gedi—sayuran lokal yang mirip bayam, tapi lebih gurih. Satu porsi lengkap dengan nasi putih hangat hanya Rp15.000 per orang. Harga yang terjangkau bangeet untuk makan malam keluarga yang mengenyangkan.

Bagi yang penasaran dengan masakan khas Papua dan ingin merasakan kebersamaan seperti di warung Mbak Yuli, konsep “bakubae” ini bisa ditemui di berbagai tempat makan tradisional di Papua. Konsep ini berasal dari budaya Maluku dan Papua yang menekankan kebersamaan saat menyantap hidangan (Wikipedia Indonesia menjelaskannya sebagai ritual berbagi makanan). Meski warung Mbak Yuli bukan restoran mewah, kehangatan dan rasa masakannya membuat kami selalu kembali.

Sore itu, setelah hujan reda, punggungku masih terasa hangat oleh uap kuah ikan yang baru kami santap. Di seberang meja, suamiku mengelus kepala si bungsu yang sudah mulai mengantuk. Tempat makan keluarga yang sesungguhnya bukanlah tentang interior keren atau menu eksotis, melainkan tentang ruang tempat kita pulang—bersama orang-orang terkasih, sepiring nasi, dan cerita yang tak pernah habis.

Tag: #tempat-makan-keluarga #kuliner-serui #warung-sederhana #masakan-rumahan